Tak Lekang Oleh Waktu
Seputih cinta ini ingin kulukiskan di dasar hatiku
Kesetiaan janjiku untuk pertahankan kasihku padamu
Bukalah mata hati
Ku masih cumbui bayang dirimu di dalam mimpi
Yang mungkin tak kan pernah membawamu di genggamku
Reff :
Dirimu di hatiku, tak lekang oleh waktu
Meski kau bukan milikku
Intan permata yang tak pudar,
Tetap bersinar mengusik kesepian jiwaku
Ku coba memahami,
Bimbangnya nurani tuk pastikan semua
Tak akan ku ingkari,
Terlalu banyak cinta yang mengisi datang dan pergi
Namun tak pernah bisa,
Lenyapkanmu di benakku…
Matahari belum bersinar ketika kuputuskan perjalanan. Beberapa ruas jalan dan kehidupan nampak hening. Dimanakah orang-orang itu? Pintu rumah mereka membatu dan bisu, seakan ada gembok dan rantai raksasa yang membelenggu. Bukankah sekarang saatnya corong-corong tinggi itu berteriak. Pekik alunannya yang terkadang indah dan tersedak hanyalah angin lalu. Tak mampu membuat perubahan apapun. Pintu-pintu itu masih tetap bisu dan membatu.
Deru kuda besi berwarna pekat yang membawa kami adalah raja. Jalan ini milik kami, tak ada sesuatupun yang menghalangi. Perjalanan ini juga milik kami. Pagi ini milik kami. Kami adalah pemilik hari ini. Kami yang pertama bangun dan memulai perjalanan ini. Kamilah yang selalu mengingat dan melestarikan kebudayaan kami. Tradisi kami, identitas kami.
Aku sendiri hanya mampu menderu dari dalam sanubari. Sudah lama rasanya tempat itu tak kukunjungi. Akankah masih seperti dulu yang tak lekang oleh waktu. Sampai tiba saatnya di sebuah bangunan tua yang katanya asal mula daerah ini. Laki-laki itu mencegat laju kuda besi kami. Mulyadi, nama yang tertulis di kartu pengenal kecil itu. Agaknya dialah harap kelanjutan perjalanan kami. Dengan cekatan Mulyadi menceritakan proses perjalanan kami selanjutnya, menuju tempat itu. Tempat yang sampai saat ini dibanggakan dan dieluh-eluhkan pengelola daerah kami. Namun tak pernah dikelola dengan sepenuh hati.
Misi pagi sangatlah berarti, kami harus mengawal salah seorang saudara besar dari pulau seberang sana. Perjalanan darat kami telah usai, berlanjut perjalanan air dengan kapal kecil.
Dulu, tempat yang akan kami datangi ini adalah pusat perdangangan terbesar seantaro kota sungai ini. Sebuah muara sungai yang memompa denyut nadi kota kami. Tapi sekarang apa? Tak ada lagi yang berarti disana. Selain sungai besar dan sampan-sampan kecil budaya. Sisanya sirna. Terbawa globalisasi dan modernisasi.
Perjalanan ini tak lebih dari perjalan biasa. Sepertihalnya sampan-sampan itu yang dikayuh dari berbagai muara. Sarat muatannya namun tak lebih hanya sebagai pencuci mata. Keringat tulang-tulang jompo di atasnya tak lebih dari hiasan kota belaka.
Pasar Terapung. Masih terngiang ajakan mereka, sang pengelola kota untuk berbondong-bondong mengunjunginya. Hanya itukah? Apakah hanya dikunjungi, diambil beberapa sudutnya, kemudian berlalu pergi.
Agh… pengelola kota! Lagi-lagi kau dustai kami. Muara sungai itu sudah terlalu besar sekarang. Berubah sangat besar dan lebar. Sampai sampan-sampan budaya itu terlihat kecil dan kecil. Ataukah memang kebayakan dari sampan budaya itu sudah tenggelam kedasar sungai. Berkurang selaras terbenamnya matahari. Sampai nanti semua sirna dan tak ada lagi yang bisa dikunjungi anak cucu kami. Dan hanya meninggalkan catatan sejarah yang terpajang dalam museum berdebu di sudut hati.

Leave a Reply