header image
 

Titah, Cahaya, dan Semut Pincang dalam Sebuah Elegi

“dia lagi … lagi2 dia … dia … dia … dia …
why she always come 2 my dream?!!!!!!

Sayapnya adalah titah sang Maha yang sempurna
Tercipta dari cahaya elok mayapada
Terasing dari pekat-riuh semesta

“Aku tenggelam lagi,” kata seekor semut pincang
“Kali ini aku diam, tak meronta.
Kubiarkan tubuhku larut dalam auranya.”

Ia adalah cahaya
Ia adalah cahaya!
Dan aku … tenggelam dalam kilaunya

“Sinarnya menyilaukan mataku,” ucap semut pincang
“Namun hatinya membuatku sanggup berlari …
lagi…”

Lagi, tak akan kubiarkan ia tersiksa
Cukup sudah suaraku mengganggu tidurnya
Cukup sudah kehadiranku mengusik dunianya

Lagi,
Aku kalah … dan tersisih
Lagi
Satu tangan telah terbuka
Namun tiada daya, cahayanya memudar
padam untukku

~ by catatan-anak-jogja on November 3, 2008.

Leave a Reply