Titah, Cahaya, dan Semut Pincang dalam Sebuah Elegi
“dia lagi … lagi2 dia … dia … dia … dia …
why she always come 2 my dream?!!!!!!
why she always come 2 my dream?!!!!!!
”
Sayapnya adalah titah sang Maha yang sempurna
Tercipta dari cahaya elok mayapada
Terasing dari pekat-riuh semesta
“Aku tenggelam lagi,” kata seekor semut pincang
“Kali ini aku diam, tak meronta.
Kubiarkan tubuhku larut dalam auranya.”
Ia adalah cahaya
Ia adalah cahaya!
Dan aku … tenggelam dalam kilaunya
“Sinarnya menyilaukan mataku,” ucap semut pincang
“Namun hatinya membuatku sanggup berlari …
lagi…”
Lagi, tak akan kubiarkan ia tersiksa
Cukup sudah suaraku mengganggu tidurnya
Cukup sudah kehadiranku mengusik dunianya
Lagi,
Aku kalah … dan tersisih
Lagi
Satu tangan telah terbuka
Namun tiada daya, cahayanya memudar
padam untukku

Leave a Reply