header image
 

Aku Cinta Kamu (gadis kursi roda) Bagian 2

setelah sampai di taman, aku menelunjukan tanganku ke arah matahari “Nurul kamu seperti matahari sore itu!,” walupun cahanya tidak terlalu terang tapi cahayanya sangat indah, hingga semua ingin memandangmu dan melihatmu walaupun harus menunggu saat itu datang. dengan nada yang sangat lesu, dan bibir lembut, sungguh tak bisa aku berhenti melihat seraut wajah yang anggun dan bibir yang merah alami tanpa seoles lipstikpun di bibirnya.. di berkata

“. am matahari itu hanya punya waktu sesaat, dan tak lama dia akan tenggelam dan seiap yang melihatnya pasti akan melihat gegelapan. jadi janganlah kmu terlalu berharap pada sinar matahari itu.” .*

tanpa tersa waktu begitu cepat. aaku pun bergegas mengantarnya untuk pulang kerumah. sesampai dirumah aku berpamitan pada kaka dan ibu Nurul yang sedang menyulam kain dengan tangan. sambil aku sodorkan sebungkus oleh2 kenurul.

” Rul ini oleh-oleh dari jogja untuk kamu”

“makasih ya am, kamu sampai repot-repot bawain oleh-oleh untuku.

“sama-samu rul” Gpp.  . sambil bersalaman.

10 agustus

pada pagi itu aku terbangun oleh smz yang membangunkanku. dan aku baca ternyata pesan dari nurul . yang isinya. ” dia menanyakan aku tentang janji aku untuk mengajaknya makan. dan terpaksa aku meminjam duit dari temen untuk memenuhi janjiku pada nurul.

dan aku mengajanya berjalan -jalan disuatu mall.. besar di jakarta timur. sambil aku mendorong kursi roda denagn tiba-tiba dia memegang erat tanaganku. saat itu jantungku berdetak sangat kencang seakan aliran darah yang naik dan denyut nadi yang terasa ingin meledak. di bertanya. ‘” am apa kamu ga malu jalan bersama wanita cacat seperti saya.?” ” rul ngapain aku harus malu jalan sama wanita secantik kamu!

” dan dia hanya tersenyum”

sampi kita di depan suatu cafe kecil dan disitu kita memesan makanan, sambil mengusir lelah sejenak . setelah itu kitapun langsung bergegas pulang. aku merasa hari ini penuh dengan kebahagian. Ohh sekarang di otaku hanya ada Nurul dan nurul.  disetiap perjalanku menuju tempatku aku selalu tersenyum kecil.

sesampai di rumah aku ceritakan semua pada tema dan sahabat dekatku.dan pada malam hari aku sempat menuliskan puisi yang aku tuliskan di belakang Photo nurul yang terpampang di kamarku.

Nurul..
Kenapa???
Otak dan lidahku tak bisa berhenti menggumamkan namamu
Nurul
Mimpiku,nurul..
Hanya  dari mimpiku,
aku bisa benar-benar melihat wujudmu dari jarak sedekat ini.
Aku hanya diam, Nurul??
Aku tahu detik-detik kau hembuskan nafasmu..
Merasakan tiap kejaran pikiran ku yang melayang menangkap tiap kata yang coba kau ucap.
Hanya mimpi, nurul..
Ini hanya mimpi…
Karena aku hanya bisa menemukanmu di sini

 

dan aku bisa melihat jelas bayangan yang melekat dalam otak bahkan merasuk kedalam haati dan jantungku.

Nurul sesungguhnya aku sangat mencintaiku. aku sangat menyayangimu, itulah kau..

Menatap lekat wajah kecil yang terbingkai di dinding. Dalam hatiku bertanya.. “Apa yang kau pikirkan kala itu? Apa yang kau inginkan jika kamu sudah besar nanti? Apa cita-cita dan harapanmu?”

Matahari kembali menyembunyikan sinarnya di batas cakrawala. Awan kelabu perlahan berganti jadi hamparan gumpalan kapas hitam. Gelap hiasi satu dimensi di bumi. Di bumi itu aku terpaku.
Dari kisi jendelaku, rembulan seakan bertanya tentang gundah yang terlukis jelas di wajahku. Gundah yang seakan menggantung di satu sudut batas jiwaku. Kupeluk erat kotak senarku seraya bernyanyi usir gelisah di padang resahku. Pikiranku terbang, melayang sampai tapal batas dimensi. Suaraku tenggelam, tercekat gugu di balik tiupan angin yang menelan seribu tanyaku. Tanya yang muncul saat gadis itu tiba-tiba jadi siluet tanpa tubuh yang berenang bebas di satu ruang tanpa wujud namun terasa nyata. Aku kembali terbang, tembus ruang dan waktu, kembali ke saat itu.

“Rul…aku suka kamu!” Tegas dalam satu vibrasi resah, tapi sanggup timbulkan resonansi yang lepaskan aku dari ikatan nyata. Aku mengernyit menatap gadis yang tersipu malu di hadapanku.
“So.. sorry Rul, bukan maksudku untuk mengusikmu. Aku… aku hanya ingin lepaskan semua ganjalan di hatiku. Aku ingin bebas Rul, dan sekarang aku benar-benar lega.” Hembusan nafas berat itu seakan usik ombak yang beradu di pikiranku. Aku kembali menatapnya dengan seribu tanda tanya, tanda seru, dan semua tanda yang pernah kukenal di dunia ini.
dan setelah aku mengungkapakan perasaan ini entah mengapa aku ini menjadi lebih canggung dengan dia. sebenernya ada rasa penyesalan dalam hati kecilku. namun aku merasa lega.

kini akupun slalu menunggu jawaban itu.

sampai saat ini aku masih menunggu.

 

bersambung!

 

~ by catatan-anak-jogja on November 19, 2008.

Leave a Reply